Mitos dan Fakta DKV

Banyak orang bingung memilih jurusan kuliah. Tidak jarang dari mereka menyerah dari passion dan mimpi mereka karena mereka disesatkan oleh mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Saya pun pernah disesatkan oleh itu semua. Saya rindu teman-teman pembaca mendapatkan informasi yang cukup mengenai fakta jurusan DKV sehingga teman-teman dapat memilih jurusan yang sekiranya sesuai dengan passion kalian tanpa ditakut-takuti oleh mitos yang beredar. Berikut mitos dan fakta mengenai anak DKV.

Jurusan Yang Membuat Mahasiswanya Jarang Tidur

Hal ini juga sempat menjadi pertimbangan saya untuk mundur saat mendaftar di jurusan ini. Sering kali saya mendapati kakak tingkat saya yang mendadak badannya menciut alias kurusan namun kantung mata membengkak. Dalam hati saya bertanya, apa sebanyak itukah tugasnya sehingga orang-orang tidak punya waktu untuk makan dan tidur. Namun, ketika saya sudah menjalaninya sendiri sekarang, saya berani katakan itu semua hanyalah mitos. Saya bahkan tidak pernah tidak tidur karena mengerjakan tugas. Intinya, jangan pernah menunda mengerjakan tugas. Tugas yang diberikan hari itu kalau bisa dikerjakan hari itu. Kita tidak pernah tahu apakah nanti ada tugas yang diberikan lagi esok harinya. Biasanya deadline tugas itu seminggu. Nah, kalau misalnya tugasnya ada tiga terus tabrakan juga dengan sketch awal untuk keperluan studio mingguan yang seminggu studionya ada tiga kali. Ya, mati kita.

Kuliah DKV Santai Karena Tidak Ada Pelajaran Eksak

Pelajaran hitung-hitungan, matematika, fisika, kimia yang membuat otak panas dan berasap sudah tidak ada lagi di DKV. Yeay! Tidak usah capek-capek lagi menghafal rumus-rumus yang aneh-aneh itu. Pasti belajar di kuliah jadi lebih santai dan menyenangkan karena hanya sekedar mengerjakan hobi tanpa mikir yang berat-berat. Faktanya, memang di DKV tidak ada mata kuliah pelajaran eksak tetapi memikirkan konsep suatu karya juga sama beratnya dengan ilmu hitung-hitungan. Menurut saya, lebih enak pelajaran eksak. Mengapa? Karena pelajaran eksak adalah ilmu pasti. Jika soal itu ketemu jawabannya, berarti kamu berhasil menjawab soal itu. Nilai yang kamu dapatkan sudah pasti segitu. Berbeda dengan ilmu desain yang tidak pasti dalam penilaiannya. Memang ada ketetapan-ketetapan dalam dasar desain yang harus dipatuhi dalam setiap karya, namun masalah estetika semua itu masalah selera. Menurut kamu bagus, belum tentu menurut orang lain bagus. Konsepnya menurut kamu sudah oke, belum tentu yang lain oke.

Anak DKV = Tukang Gambar
Pasti banyak dari antara kalian yang mau masuk jurusan DKV karena jago gambar. Sebaliknya, pasti banyak dari antara kalian yang tidak berani masuk jurusan DKV karena tidak bisa gambar. Saya pun demikian. Saya masuk DKV hanya modal nekat dan modal beberapa pengalaman mendesain menggunakan digital, yaitu photoshop dan ilustrator. Kemampuan saya dalam hal digital pun bukannya sudah jago atau dewa, saya masih dalam tahap belajar dan meniru desain-desain yang ada di internet. Intinya basic saya bukan gambar.

Kalau kalian berharap jurusan DKV akan melatih kalian secara intensif selama empat tahun ke depan untuk menjadi expert dalam hal gambar, kalian salah besar. Faktanya, jurusan DKV bukanlah jurusan yang akan melatih kalian menjadi tukang gambar melainkan melatih kalian bagaimana menjadi problem solver. Tentunya, melalui media visual. Dosen menggambar saya bahkan berkata bahwa jika kalian masuk DKV hanya ingin pintar menggambar, lebih baik kalian nongkrong di pinggir jalan bersama seniman jalanan yang membuka jasa menggambar dan belajar dari Beliau. DKV menuntut kalian lebih dari itu.


Jago gambar bagus tapi jago konsep lebih bagus. Yang membedakan seniman dengan desainer adalah konsep. Dalam membuat suatu karya, desainer dituntut bukan hanya sebatas bagus namun berkonsep. Beberapa kali di studio saya sempat bingung melihat karya teman saya yang sangat bagus dan rapi tetapi mendapat nilai yang lebih rendah dibanding karya teman saya yang menurut saya biasa saja. Karena penasaran, saya bertanya kepada asisten dosen yang menilai. Beliau berkata dalam penilaian, konsep lebih diutamakan dibanding estetika.


Jadi, menggambar tidak penting di jurusan DKV? Penting tapi bukan yang terpenting. Keahlian gambar kalian di DKV itu dipakai untuk membuat sketch atau thumbnail atau rancangan kerja kalian. Saya rasa mahasiswa DKV di mana pun dibiasakan membuat beberapa sketch awal terlebih dahulu sebelum mulai mendesain. Sketch awal ini penting agar klien dapat memilih desain mana yang sekiranya beliau suka untuk kita desainkan finalnya. Pasti kalian berpikir sketch awal hanya berlaku bagi desain grafis atau menggambar saja. Faktanya, sketch awal juga dibutuhkan bagi seorang fotografer sekalipun.

DKV sendiri merupakan jurusan yang cakupannya sangat luas, mungkin itu animasi, branding, advertising, digital imaging, web design, fashion, film production dan masih banyak lagi. Jangan minder jika kalian hanya bisa di satu bidang saja tetapi masih kurang di bidang lain. Mungkin teman-teman kalian yang jago gambar belum tentu bisa foto atau desain digital sama seperti kalian.


Lulusannya Tidak Punya Masa Depan

Statement ini kebanyakan diucapkan oleh orang tua. Wajar saja karena mungkin saat mereka kuliah dulu jurusan DKV belum ada karena jurusan ini tergolong baru, berbeda dengan jurusan teknik maupun manajemen lainnya dan mungkin saja lulusan-lulusan jurusan lain yang mereka lihat itu sukses ke depannya, sedangkan banyak yang tak terlihat di luar sana juga banyak yang tidak sukses. Semua tergantung kita sebagai mahasiswa, bagaimana kita bertanggung jawab sama hidup kita..Dahulu, pilihan saya selain DKV adalah manajemen bisnis karena selain hobi desain grafis saya juga hobi dagang. Tetapi saat saya mendaftar kuliah tahun 2016 itu sedang gencar-gencarnya seminar tentang bagaimana kita harus bertahan di masa depan karena persaingan yang semakin ketat akibat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang membebaskan para pekerja di ASEAN untuk dapat bekerja lintas negara. Saya yakin bukan persaingan mendapatkan kerja saja yang semakin ketat tetapi juga persaingan bisnis. Jujur, saya takut tidak mampu bersaing. Saya berpikir lama mengenai jurusan apa ya yang nantinya akan mendapatkan keuntungan dalam persaingan ini. saya pikir yang orang butuhkan saat menawarkan produknya dalam persaingan bisnis adalah desain yang unik agar konsumen dapat tertarik. DKV dapat menjadi jawaban.

Enak Jadi Anak DKV Karena Tidak Ada UTS Dan UAS

Faktanya, bukannya Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester yang biasanya menjadi momok anak kuliahan tidak ada sama sekali, tetapi ujian itu jarang sekali terjadi di jurusan DKV. Tepatnya, tidak ada ujian di tempat. Maksudnya di tempat ini adalah ujian di kelas dengan pengawas seperti layaknya ujian-ujian pada umumnya. Misalnya dalam satu semester ada enam pelajaran DKV, yang ujian di kampus itu paling cuma satu dua. Sisanya diganti dengan tugas besar atau ujian take home. Jangan salah. Ujian dengan tugas besar bobotnya jauh lebih berat dengan ujian di kelas. Kalau ujian di kelas, paling bedanya sama studio mingguan itu cuma briefnya hari H, tidak ada asistensi sketch awal dan tidak boleh lihat referensi sama sekali. Ujiannya saja paling hanya 4 jam. Sedangkan, ujian dengan tugas besar biasa disiapkan dua minggu sebelum. Mulai dari pembuatan sketch awal, pencarian referensi dan penjabaran konsep. Tugas besar pun yang dikumpulkan bukan hanya karya akhir, namun juga buku konsep. Tapi mau bagaimana pun saya lebih prefer ujian dengan tugas besar karena sangat terasa pengorbanan dan kerja kerasnya. Di saat jurusan lain sibuk belajar untuk ujian, anak DKV hanya datang ke kampus kumpul tugas besar saja setelah itu bisa hang out dan jalan-jalan ke mall. Kebayang kan betapa irinya jurusan lain melihat anak DKV.  

Itu mitos yang sedang berkembang di masyarakat menurut versiku, bagaimana dengan versimu? Ayo sharing di kolom comment. 
                                                                                            

Comments

Popular posts from this blog

8 Tips Jitu untuk Mahasiswa Baru DKV

3 Aplikasi Jitu untuk Designer DKV